Minggu, 26 Mei 2019

PRIA SERBA SALAH, WANITA? BODOH?



Aku kadang-kadang punya keresahan perihal dalam menjalani kehidupan percintaan. Mau dianggap hubungan pernikahan ataupun berpacaran, perspektif kalian adalah kalian sendiri yang bangun. Apapun sudut pandang kalian, tulisan ini sepertinya akan nyambung.

Kadang saya berpikir untuk marah. Sesekali nih dada yang sesak pengen banget meledak karena pasangan sendiri.
Beberapa orang yang saya kenal, bahkan yang saya tidak kenal pernah berkata ...

"Sayangi pasanganmu yang adalah istrimu. Jika mengambil perumpamaan, mereka itu bengkok karena tercipta dari tulang rusuk pria. Sekeras dan sekuat apapun kamu berusaha meluruskannya, mereka akan tetap bengkok. Jika kamu memaksakan dan terus menekan mereka untuk lurus, mereka tidak akan lurus melainkan patah dan retak."

Namun apakah hanya sebatas itu? Seorang istri/pendamping yang diibaratkan bengkok apakah tidak punya pikiran? apakah tidak punya hati dan belas kasihan sedikit pun terhadap suami/lelakinya?
Bukan persoalan fisik ataupun sejenisnya, melainkan persoalan hati dan ego.

Aku yang meminta maaf? Tentu saja harus! Kami, laki-laki, sepertinya memang diciptakan untuk selalu meminta maaf kepada wanita walaupun tidak salah. Namun apakah wanita tidak bisa ditegur ketika melakukan sebuah kesalahan? Bahkan ketika ia berbuat kesalahan yang sama berkali-kali?
Ketika wanita menangis, kami luluh! Kami diam terenyuh dan mengurungkan niat untuk terus 'menceramahi'. Ketika semua itu sudah selesai, waktu berjalan tak kenal henti, tiba saatnya mereka (wanita) melakukan kesalahan yang sama, padahal sudah pernah ditegur bahwa apa yang dilakukannya adalah salah/tidak baik/tidak benar.
"Roda setan" itu berputar kembali. Salah, diceramahi, nangis dan selesai kemudian terulang kembali.

Ini hanya keresahanku saja yang tidak menutup kemungkinan tidak semua wanita seperti pada keresahanku saat ini.

Akhir kata, tidak ada solusi atas tulisanku ini. Mungkin juga tidak jelas.
Ya namanya juga keresahan. Ditulis dalam keadaan resah, ya sudah ngalir saja seperti air. Mau ada batu (tulisan tidak jelas), mau ada kotoran (ngambang), ya namanya juga resah.

Jumat, 24 Mei 2019

PERANG RASULULLAH VS INDONESIA 22 MEI 2019


"PERANGNYA BAGINDA RASULULLAH SAW"
... dan apa hubungannya dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
By. Rein
H+2 Pasca Real Count Pilpres 2019

Perangnya Rasulullah terjadi karena tak ada jalan lain selain perang dan benar-benar, sungguh dan sudah sangat amat mentok tak ada jalan lain lagi.
Paham tak maksudku? Penekanan di atas saya rasa sudah sangat jelas.

Nabi yang ditetapkan oleh Allah untuk menghadapi raja Firaun, tahu?
Sang nabi yang menghadapi raja kejam hingga mengakui dirinya sebagai tuhan pun masih diperintahkan oleh Allah agar berdakwah dengan lemah lembut. Tak pernah ada sejarah mengatakan bahwa sang nabi kasar dan keras (baik ucapannya maupun gerak tubuhnya), apalagi sampai menyatakan perang terhadap Firaun. Dia nabi Musa AS.
Ini raja Firaun loh! Kenal gak?! Raja maha kejam lagi maha kafir yang duduk merajai negeri Mesir.
Kalau sekarang paling mentok-mentok ada orang yang ngomong bahwa dia Nabi, bukan sampai bilang bahwa dirinya Tuhan.
Ini dia orang loh yang mengatakan dirinya Tuhan, tapi Allah melalui Nabi Musa AS masih diperintahkan untuk berdakwah dengan lemah lembut, penuh kesabaran, bijaksana lagi penyayang. Paham tak?

Kembali ke topik "Perangnya Rasulullah".
Baginda Muhammad SAW setahu saya tak pernah perang dibarengi dengan perasaan amarah dan dendam lagi maha benar. Catat!
Beliau berperang karena sudah benar-benar tidak ada jalan lain lagi. Sudah benar-benar amat sangat tak bisa dihindari lagi yang namanya berperang.
Kalau disinkronkan dengan masa sekarang yang terjadi di Indonesia, khususnya pilpres 2019 yang telah mengukir sejarah kelam dan mungkin tak terlupakan untuk anak cucu penerus bangsa, pihak lawan masih punya jalan lain, yaitu mengajukkan gugatan kepada yang bersangkutan perihal kecurangan.

Rasulullah berperang ibaratnya jika disinkronkan di masa kini adalah, beliau punya bukti yang konkret dan tak terbantahkan baik dari pihaknya maupun pihak sebelah yang menentang beliau. Ia dapat membuktikannya tanpa ada satupun "berkas" yang kurang. Paham tak?
PIHAK SEBELAH TAK BISA MEMBANTAH KEBENARAN TERSEBUT.

"Tapi kami tidak direspon! Gugatan kami tidak diterima dengan dalih tidak lengkap dan tidak kongkret!" Kata para pendukung.

Saya cuma bisa mengatakan bahwa pak Prabowo Subianto dan pak Sandiaga Uno bukanlah orang bodoh. Beliau-beliau ini tahu apa yang harus mereka lakukan ketika menghadapi masalah seperti di atas. Biarkan mereka bekerja dan kita berdoa sembari memohon kepada Allah agar segala macam yang terbaik untuk negeri dapat terwujud.

"Tragedi 1998 karena adanya massa! Jangan banyak bacot!"

Oke! Silakan ulangi tragedi tersebut!
Sekian dari saya yang tak ingin banyak berdebat, tapi satu hal yang ingin saya tekankan, Rasulullah SAW tak pernah berperang di atas perasaan amarah.

"Di sana Allahu Akbar, di sini Allahu Akbar, saya juga Allahu Akbar. Mana Allahu Akbar yang benar?!" Kata pak polisi.

Jumat, 17 Mei 2019

INI PLAGIAT!


Setelah lama tidak menulis di dalam blog, tepatnya sejak tahun 2014, akhirnya saya berkeinginan untuk menulis lagi dengan mengambil langkah pertama : menghapus semua tulisan saya yang lalu ... HA HA HA!
Yah walaupun tidak ada yang baca, it's okay.
Suatu saat nanti bakal ada orang-orang di luar sana yang pay attention terhadap tulisan saya. Amiin

Resah dengan aksi yang sering diluncurkan sebagian orang tak bertanggung jawab, yaitu menjiplak karya orang lain, rasa-rasanya saya sampai detik ini merasa tidak aman untuk mempublikasi tulisan-tulisan saya yang saya anggap 'penting'.

Well, semua tulisan saya penting sih. Masa karya sendiri gak penting? Ya, gak? Tapi untuk saya pribadi, setiap tulisan yang saya ciptakan mempunyai levelnya masing-masing. Ada yang saya anggap sangat penting, ada yang saya anggap penting saja.
Tulisan yang 'penting saja' ini saya coba untuk publikasi, baik di platform menulis seperti blogspot atau facebook. Kalau ada yang jiplak? Ya mau bagaimana lagi? Tulisan saya pernah saya dapati beberapa kali dijiplak oleh orang lain tanpa mencantumkan nama saya selaku pencipta tulisan tersebut.

Sakit gak sih? Kayaknya.
Peraturan negara kita pun masih lemah kalau ngomong soal klaim bebas hak cipta.

Maksud dari bebas hak cipta di sini adalah si pencipta tulisan tidak melisensikan tulisannya ke lembaga terkait perihal lisensi dan hanya sekadar share/go public karya tulisnya disebuah platform terutama media sosial

Bisa sih kalau klaim, tapi hanya untuk karya-karya yang sudah dilisensikan terlebih dahulu seperti buku cetak.
Kalau tulisan yang hanya dibagikan lewat internet tanpa adanya lisensi seperti itu? Sulit tentunya.
Bukan salah peraturan negara, bukan juga salah kita selaku pencipta tulisan.
Ini persoalan moral dan tingkat kesadaran diri.

Menyinggung pelaku plagiarisme bukanlah semata-mata personal saja, namun ada juga tuh penulis berita alias wartawan. Saya tidak merendahkan suatu profesi, hanya saja yang terjadi di lapangan sudah seperti itu.

Satu kata dari saya, "Resah".
Udah, itu saja.
Tulisan ini berantakan tapi semoga saja dapat dipahami.

What i must to do?
What we must to do?

Oh ya, satu lagi. Tulisan saya hanya sekadar curhat doang. Tidak ada solusi atas apa yang saya tuliskan di sini karena ... ya saya sendiri bingung.